Pontianak (ANTARA News) - Deputi Direktur Konservasi WWF Indonesia, Budi Wardhana, mengingatkan bahwa berdasarkan kajian jejak ekologis, Indonesia akan mengalami defisit pada tahun 2016.

"Artinya, sejak tahun itu, kita sudah memakai sumber daya alam yang seharusnya dinikmati anak cucu kita," kata Budi Wardhana saat lokakarya "Membangun Ekonomi Hijau Berbasis Masyarakat di Wilayah Heart of Borneo" di Pontianak, Selasa.

Menurut dia, populasi penduduk penduduk mempengaruhi jejak ekologis di Indonesia. Namun, lanjut dia, pemerintah sudah mencoba agar pertumbuhan penduduk cenderung datar atau sedikit peningkatannya.

"Tetapi yang sangat mempengaruhi jejak ekologis ternyata produk domestik bruto, yang berkaitan dengan pembangunan," kata Budi Wardhana yang konsentrasi di Instrumen Ekonomi Konservasi.

Ia menjelaskan, pada tahun 2004 ekonomi Indonesia secara perlahan mulai pulih dari goncangan krisis global meski masih rentan dengan kondisi politik, sosial maupun keamanan pertahanan.

Sedangkan dari sektor pertumbuhan karbon, Indonesia terus meningkat dan kini menempati peringkat kedua di bawah China.

Emisi karbon akan terus meningkat secara drastis kalau terjadi perubahan fungsi lahan serta pembukaan hutan skala luas.

"Pemerintah sendiri mempunyai komitmen menurunkan emisi karbon 26 persen hingga 41 persen pada 2020," kata dia.

Ia menambahkan, berdasarkan kajian tahun 1971 - 2004, energi Indonesia ternyata semakin kotor. Data 2004 tetap digunakan karena hasil kajian terbaru masih menunggu laporan tentang emisi rumah kaca di Indonesia.

Indonesia, lanjut dia, dengan pertumbuhan penduduk sekitar dua persen, terhadap peningkatan pendapatan per kapita, masih kalah dibanding China.

"Efisiensi energi masih rendah, karena Indonesia ikut menyumbang karbon yang tinggi. Bahkan Indonesia negara yang paling kotor dibanding China, Australia, dan negara lain di sekitarnya," kata Budi Wardhana.

Nilai efisiensi sumber daya Indonesia berada di posisi 6,60; jauh di atas rata-rata dunia yakni 2,61.

Beragam kejadian terkait perubahan iklim yang terjadi di Indonesia menimbulkan sejumlah bencana. Di antaranya 108 kejadian banjir dan tanah longsor per tahun, penyakit berkaitan dengan perubahan iklim 27 kejadian per tahun, cyclon 10 kejadian, kebakaran hutan 9 kejadian, kekeringan 8 kejadian, rob dua kali setahun.